Jumat, 15 Desember 2017

Suka Duka Relawan Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 (Eps.2)

Setelah cerita pra pemberangkatan di episode 1, kali ini aku akan menceritakan tentang pemberangkatan dan pelaksanaan.
Anggap saja ini adalah bukti autentik kalau aku pernah mengikuti kegiatan ini, yang kelak bisa dibaca oleh anak dan cucuku dan mereka turut berbangga bahwa ibu atau neneknya dulu pernah jadi bendahara tim ENJ jabar, hahahaha.
Hari yang dinanti telah tiba. Tanggal 12 September 2017 adalah hari besar bagi kami, hari dimana pertama kali kami semua bertatap muka secara langsung. Sayangnya hanya ada 20 orang yang turut serta dalam tim kami. 5 orang lainnya mengundurkan diri, jadwalnya tidak pas dengan urutan skala prioritas kepentingannya. Semua orang senang di hari itu, tidak ada raut kesedihan yang mampir di wajah teman-teman baruku. Saling menyapa, berjabat tangan, berkenalan, obrolan ringan seputar perjalanan darat yang mereka tempuh dari daerah masing-masing, ber-selfie ria, berdiri di dek kapal sambil memandang biru-hijau-dan bersampahnya-laut jawa, kira-kira itulah pemandangan yang bisa dilihat selama perjalanan kami dari pelabuhan sunda kelapa menuju pulau harapan.
5 jam berlalu sejak jam setengah sembilan pagi itu, akhirnya kami tiba di dermaga pulau kelapa, tepat di depan kantor Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Rasanya oleng begitu menapaki daratan lagi, hahaha. Panas terik, lapar dan haus diselingi gelak tawa dan senyum manis memandang lautan biru dengan gradasi yang sangat indah menjadi potret tak terlupakan yang masih terekam dalam memoriku sampai saat ini.
Setelah koordinator kami sowan ke polsek dan kantor kelurahan setempat, dan barang-barang kami diangkut menggunakan tossa (re: mobil) pengangkut sampah pinajaman dari kelurahan  😂, barulah kami semua menuju taman untuk makan siang (yang sudah tak lagi siang). Enak, itulah komentar kami terhadap makan siang pertama kami di Pulau Harapan. Catering Ibu Irien namanya, warungnya terletak di ujung dermaga Pulau Harapan, Irien nama anaknya ibunya sendiri namanya Sariyah. Masakan ibu ini recommended banget untuk kamu yang hendak berkunjung ke Pulau Harapan. Setelah makan siang yang tak lagi siang, kami membawa barang-barang kami dengan gerobak untuk dibawa ke homestay. Butuh 2 gerobak untuk mengangkut semua barang dalam satu waktu.
Lelah, panas, lengket dan berkeringat. Kira-kira kata tersebutlah yang dapat menggambarkan hari kami waktu itu. Masih beradaptasi dengan lingkungan pulau yang terik dan bau laut dimana-mana. *yaiyalah, hahaha
Air mandi kami selama di homestay adalah air yang tidak begitu asin. tapi tidak juga tawar. Kalau dipakai untuk sikat gigi, rasanya mirip mirip pocari sweat lah ya hahaha. Jadi untuk yang hendak pergi ke Pulau dan punya masalah kulit, jangan lupa disiapkan obatnya 😁
Day one clear ✅
Di hari kedua dan ketiga, kami mengunjungi kantor kelurahan, dan berkunjung ke sekolah yang ada di Pulau Harapan untuk menyesuaikan program kami dengan jadwal yang ada.
Adik-adik sekolah di Pulau Harapan terlihat begitu antusias dengan kehadiran kami.Berbagai perlombaan dan kelas motivasi pun digelar. Semua wajah terlihat gembira.
Rencana awal kami, semua program harus di selesaikan sebelum hari Kamis, dan hari Jum'at hanya akan digunakan untuk persiapan Pentas Anak Pulau, yaitu sebuah acara puncak program kerja kami sekaligus malam perpisahan kami dengan seluruh penduduk Pulau Harapan.
Hari demi hari kami lalui dengan suka cita, sulitnya mandi dengan air tawar bukan lagi menjadi keluhan. Perihnya wudhu dengan air asin juga rasanya sudah kebal. Setiap pagi dan petang, kami selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan berkeliling pulau. Mencari sunrise di timur, dan menangkap sunset di barat.
Bagiku, dari 11 hari yang kami lalui bersama, Pentas Anak Pulau adalah program yang paling berkesan. Mulai dari persiapan, hingga pasca pentas.
Karena di jadwalkan di hari terakhir sebelum kepulangan kami, dan rencana awal yang mulanya akan diselenggarakan di dermaga namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk pindah lokasi ke halaman kantor kelurahan, persiapan yang kami lakukan pun cukup terkesan tergesa-gesa.
Karena kantor kelurahan masih digunakan sampai sore hari, dekorasi baru bisa dimulai di sore hari sekitar pukul 4 sedangkan acara kami akan dimulai pukul setengah 8 malam. Mencari pinjaman lampu tembak untuk memperbaiki pencahayaan panggung, itulah hal yang paling seru yang kulakukan selama persiapan Pentas Anak Pulau, hahaha. Ditengah sibuknya orang-orang mendekor halaman kelurahan menjadi panggung hiburan, bermodalkan kalimat sakti "selama masih di Indonesia, semua bisa dilobi", akhirnya aku dan seorang temanku berkeliling mencari tau dimana kami bisa meminjam lampu tembak.
"Kuli proyek." Itulah kata kuncinya, karena setiap mereka berlembur pasti menggunakan lampu tembak untuk penerangannya.
Semoga malam ini mereka tidak berlembur, doaku dalam hati. Namun nyatanya justru malam itu mereka sudah dijadwalkan untuk melembur sampai jam 10 malam. Kebetulan ada beberapa proyek pembangunan yang sedang dikerjakan di Pulau Harapan. Setelah dari proyek pertama, kami coba mencari tau dari warga lokal. Ibu Irien, orang yang banyak sekali membantu kami selama hidup di Pulau. Setelah mendapat saran untuk coba mencari ke proyekan lain atau bertanya pada Ibu Dewan, kami berdua meminjam motor salah seorang warga untuk berkeliling mencari proyek pembangunan yang tidak melembur malam ini.
"Ibu Dewan" kata kunci selanjutnya. Namun masih juga nihil, menurutnya tidak ada satupun penduduk di Pulau Harapan yang punya jasa sewa lampu tembak. "Paling yang punya cuma kuli proyek", begitu katanya. Ibu Dewan pun menyarankan kami untuk meminjam lampu tembak ke kuli proyek, melalui Wak Budi, salah seorang staff kecamatan yang kenal dengan boss proyek yang ada di Pulau Harapan. "Biar gampang", katanya. Kemudian kami pun ditunjukkan jalan oleh anak Ibu Dewan menuju rumah Wak Budi. Sebelum berangkat ke rumah Wak Budi, aku masih penasaran dan hendak mencoba langsung pinjam ke kuli proyek yang sedang membangun sekolah di samping rumah Ibu Dewan. "Malam ini kosong dek, gak ada lembur. Kalau mau pakai, izinnya sama Pak Galih, mess nya ada di depan SMP, di Timur",
akhirnya kami mengunjungi Pak Galih sesuai arahan pak kuproy dan dapat!! yesss

akhirnya pentas seni yang kami rencanakan berlangsung meriah dan menyenangkan, berjalan sesuai rencana semua senang semua suka walaupun masih menyisakan kritik di sana sini 😁

Minggu, 24 September 2017

Suka Duka Relawan Ekspedisi Nusantara Jaya 2017

"Ekspedisi Nusantara Jaya? Apaan tuh? Kok kayak seru gitu ya?", dalam hati aku bertanya saat pertama kali mendapat e-poster ENJ 2017.
2.000 Pemuda dan 1.000 Mahasiswa, disana tertulis.
FIX HARUS NYOBA!!!
Setelah melakukan pendaftaran online, aku tak kunjung melengkapi berkas, sampai akhirnya pengumuman peserta ENJ 2017 diumumkan masih saja tidak ada usaha dan kehilangan motivasi untuk melengkapi berkas pendaftaran. Beberapa hari setelah pengumuman peserta ENJ 2017, ternyata dibuka lagi pendaftaran gelombang kedua untuk tim yang masih banyak formasi yang kosong. Fyi, tim pemuda terdiri dari tim masing-masing provinsi, tapi 1 provinsi bisa ada 2 sampai 3 tim, jadi ada sekitar 40an tim dan 1 tim paling sedikit terdiri dari 25 formasi. Ada juga beberapa tim di beberapa provinsi yang 1 tim mencapai 50 orang.
Waktu itu tim yang masih banyak lowongan formasi (yang paling mungkin aku daftar) ada Jawa Barat, Banten, DIY dan Jawa Tengah. Karena saat ini aku domisili di Jawa Barat, jadilah aku mendaftar untuk tim Jawa Barat.
Hari demi hari berlalu, akhirnya pengumuman kelolosan peserta ENJ 2017 gelombang 2 diumumkan. Ada namaku disana, di tim 1 Jawa Barat bersama 24 nama lainnya yang sama sekali tidak ada yang kukenal. Selang beberapa waktu setelah pengumuman itu terbit, ada seorang peserta ENJ 2016 yang mengirim pesan lewat instagram. Hendak meminta id line untuk dimasukan ke grup, katanya. Sejak saat itu, kami semua mulai berkenalan satu sama lain, hanya via media sosial. Meet up pun lebih sering di Bandung yang mana ongkos bolak balik ke Bandung dari tempat tinggalku lumayan bisa untuk makan anak kosan seminggu. Dari 5 kali pertemuan pra pemberangkatan, aku hanya menyempatkan hadir 3 kali. Setiap pertemuan kami, tak pernah dihadiri 1/2 dari keseluruhan jumlah anggota tim. Paling hanya ada pengurus harian disana yang terdiri dari koordinator, wakil koordinator, sekretaris, bendahara dan PJ Program. Kendalanya ada di jarak dan waktu. Mengumpulkan 25 orang dalam satu waktu dari latar belakang pendidikan yang berbeda dan tempat tinggal yang menyebar di seluruh penjuru Jawa Barat tentunya bukan menjadi hal yang mudah. Tapi itu semua bukan jadi halangan untuk kami berangkat Ekspedisi.
Waktu dan tempat sudah ditentukan, Pulau Harapan, tanggal 12-23 September 2017 akan menjadi hari-hari penuh kesan bagi kami para relawan ENJ Jabar. Awalnya, yang kami tau sebagai peserta ENJ kami akan menjalankan sebuah pengabdian yang mana programnya sudah ditentukan dari penyelenggara (Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman) dan semua biaya ditanggung oleh penyelenggara. Ternyata, setelah beberapa kali pertemuan yang didampingi oleh peserta ENJ tahun 2016 (ya sebut saja pendampingan, karena aku sendiri merasa pendampingan yang dilakukan tidak benar-benar mendampingi seutuhnya, hahaha *peace) ENJ 2017 ini lebih mirip KKN, program pengabdian yang akan kami lakukan, kami susun sendiri, menyiapkan proposal kegiatan untuk diajukan ke penyelenggara, bahkan proposal sponsorship pun kami buat untuk mengusahakan adanya tambahan pemasukan untuk penyelenggaraan program kerja pengabdian kami disana. Biaya yang dibutuhkan memang diberikan oleh penyelenggara, berupa uang saku dan uang tiket kapal. Tiket kapal pun seharga tiket kapal perintis. (entah apakah semua tiket kapal perintis harganya sama seluruh Indonesia atau tidak, tapi tiket KM Sabuk Nusantara 66 yang kami tumpangi harganya 15ribu sekali jalan untuk 1 orang). Awalnya juga kami mengira kalau total biaya yang kami butuhkan di proposal adalah biaya yang akan kami dapatkan dari penyelenggara, ternyata tidak. hehehe.
Dari sini aku sejujurnya sudah mulai kendor semangat untuk ikut ENJ. Tapi Tuhan Maha Baik. Berkat arahan koordinator yang bijak, kami menyusun ulang semua proker dengan menyesuaikan anggaran yang diberikan oleh penyelenggara.

Sabtu, 25 Februari 2017

Ciptagelar Challenge Part 2






Yeay!! The day is coming! Setelah selesai mengurus perijinan ke Taman Nasional, beberapa hari kemudian aku berangkat ke lokasi. Sebelum berangkat aku sudah menghubungi Pak Kohar, seorang kepala resort PTN Gunung Bodas, yang membantuku untuk bisa sampai ke Resort Gunung Bodas di Ciodeng. Untuk bisa sampai kesana, dari Bogor naik Bus MGI jurusan Bogor-Pl.Ratu (4 jam perjalanan + 2 jam Bekasi-Bogor) turun di per-3an polres kab. Sukabumi (Bengkel Mayangsari) dari Bengkel tersebut aku dijemput oleh Pak Kohar lalu mampir ke Kantor Seksi Taman Nasional Gunung Halimun Salak Wilayah III Palabuhanratu untuk lapor ke Kasi (sambil menunjukkan SIMAKSI yang sudah dibuat di Balai tentunya).
Nah setelah dari Kasi, masih harus menempuh perjalanan ke Resort Gunung Bodas kira-kira 2 jam-an. Perjalanan hari itu selesai sampai di resort dan akan dilanjutkan keesokan harinya karena, menurut Pak Kohar, perjalanan dari resort ke kasepuhan trek nya cukup panjang dan bahaya (jalan naik turun, tanjakan curam. berbatu dan licin)
Keesokan pagi nya setelah selesai siap-siap, aku berangkat menuju kasepuhan ciptagelar naik motor diantar oleh staff resort gunung bodas. Perjalanan ke kasepuhan ciptagelar memakan waktu 1.5-2 jam. Menurut perhitunganku, aku melalui 9 gunung dan 8 lembah, dan 3 (atau 4?) jalan yang terkena longsoran untuk sampai di kasepuhan ciptagelar dari resort gunung bodas. Perjalanan itu bagiku perjalanan yang sangat menegangkan, selain jalannya yang naik turun dan berbelok khas jalanan di pegunungan, jalanan yang masih berbatu dan licin karena semalam diguyur hujan menambah rasa degdegan sepanjang perjalanan itu. Walaupun jalanan menuju ke Kasepuhan Ciptagelar segitu degdegannya tapi pemandangannya benar-benar membuat mata ini gak sanggup kedip. WOW! Barisan pegunungan halimun salak serta kabut yang tipis-tipis menyelimutinya emang jadi obat peredam lelah dan degdegan yang paling ampuh!
ah itu kalo kena angin muter-muter, disebutnya kolecer




jalan berbatu (yang ini rada mending)

jembatan yang penuh lumpur akibat longsor

jembatan ambrol karena longsor

ini baru 3 menit dari resort

Sesampainya di Kasepuhan Ciptagelar, aku langsung menuju rumah (sebut saja) host-fam ku, Kang David. Rumah adat khas Kasepuhan Ciptagelar yang berbentuk rumah panggung berdindingkan anyaman bambu dan berlantaikan kayu serta beratapkan daun (daun apa ya???) membuat suasana Kasepuhan menjadi semakin, ah...ya...gue di Kasepuhan Ciptagelar!
Leuit Si Jimat, tempat menyimpan padi

Aula 

lapangan volly

studio TV dan radio CIGA

atap yang baru dirangkai

sekolah SD, SMP dan PAUD 






Ohya, di Kasepuhan Ciptagelar ini sudah ada aliran listrik loh, aliran listriknya didapat dari tenaga mikrohidro yang dibangun sekitar tahun 2011 (atau 2012? atau kapan? pokoknya belum setua usia kasepuhannya deh 😄). Setiap Rumah di Kasepuhan Ciptagelar pasti punya kompor tungku untuk masak beras. Karena memang aturan adat mengatur bahwa untuk memasak beras diwajibkan menggunakan kayu bakar (kompor tungku), dan kayu bakar yang biasa digunakan adalah kayu rasamala.




Setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat, malam hari nya setelah sholat maghrib aku dan host-fam ku serta mas mas TNGHS menuju ke Imah Gede (Rumah Besar). Imah gede itu adalah tempat tinggal Ketua Adat beserta keluarganya dan bisa juga sebagai tempat tinggal tamu. Setiap malam, di Kasepuhan Ciptagelar selalu ada kegiatan, baik itu latihan degung ibu-ibu, latihan degung anak-anak, latihan pencaksilat, dsb. Imah gede juga selalu ramai orang. Biasanya warga sering kumpul malam hari untuk sekedar ngobrol-ngobrol atau istilah kerennya kongkow. Nah, kebetulan pas lagi ikut kongkow di Imah Gede, para baris kolot (sesepuh yang menjabat jadi menterinya kasepuhan) juga ada disana. Jadi sekalian aja wawancara ke Ki Karma selaku Kemit Leuweung (PAM Swakarsa/ penjaga hutan adat). Nah, serunya nih.. Ki Karma sendiri kurang lancar berbahasa Indonesia sedangkan aku sendiri kurang paham bahasa sunda.. jadilah obrolan kami rada-rada roaming gitu 😂 untung ada kang david yang bantu mentranslate percakapan kami.
sesi translate 😝

bersama Ki Karma




Sebenarnya dari sebelum berangkat ke kasepuhan ciptagelar, niat awal emang pengen ketemu sama abah ugi selaku ketua adat dan kemit leuweung untuk mengumpulkan data. Tapi ternyata pas lagi kongkow itu dikabari kalau abah ugi tadi siang baru aja berangkat ke Sukabumi karena ada keperluan dan belum tau akan selesai dan balik ke kasepuhan kapan. Rada sedih dan hopeless sih sama perjalanan ini.. apa iya harus pulang dulu terus balik lagi kesini minggu depan, duh repot banget 😥
Ohiya, cerita sedikit nih tentang hutan adat masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Jadi, hutan adat di Kasepuhan Ciptagelar itu dibagi menjadi 3 : hutan titipan, hutan tutupan, dan hutan garapan. Nah, yang dimaksud hutan garapan itu adalah yang selama ini kita ketahui sebagai sawah, ladang, huma ya pokoknya yang digarap (dikerjakan) oleh warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan hutan titipan adalah hutan yang tidak boleh diganggu, tidak boleh dimasuki sama sekali oleh warga, dan hutan tutupan adalah sebagai pembatas antara hutan titipan dan hutan garapan dimana hutan tutupan ini hanya boleh sekali-sekali dimasuki dan dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu seperti mengambil kayu atau bambu untuk membangun rumah, tanaman-tanaman untuk obat-obatan, dsb atas ijin abah. Sebenarnya konsep dari pembagian hutan adat masyarakat hukum adat ini sejalan dengan konsep zonasi dari taman nasional dengan adanya zona inti (leuweung titipan) yang benar-benar dijaga keasrian dan kealamiannya.
Setelah menggali informasi dari Ki Karma, keesokan harinya aku masih di Kasepuhan Ciptagelar mengamati kehidupan masyarakat disana. Ada yang berangkat sekolah, ada yang pergi ke sawah, ada yang nge-lisung (numbuk padi), ada yang mencari kayu bakar, dsb sambil berharap hari ini bisa ketemu abah. Tapi ternyata Allah berkata lain, hari itu aku masih belum bisa ketemu abah karena abahnya belum pulang dari sukabumi😢
Keesokan paginya, aku keliling kampung buat hunting foto. Soalnya udah 3 hari di kasepuhan tapi fotonya baru sedikit dan belum ada foto di suasana pagi yang cerah di Ciptagelar hehehe. Nah, sepulangnya dari foto-foto itu, pas lagi sarapan kang hendri (mas mas TNGHS) bilang kalo abahnya udah pulang dan nanti siang jam 2 an bisa ketemu. Yeay!! Doaku terkabul 😁
Dari jam 12 siang aku udah nongkrong sambil kongkow di Imah Gede. Disana kebetulan ada rombongan, 3 orang dari Banten yang juga ada perlu untuk ketemu abah. Di jam makan siang, imah gede selalu ada banyak makanan yang disediakan baik untuk para tamu, warga yang istirahat sepulang dari sawah maupun untuk para (sebut saja) staff nya Imah Gede.
Setelah menunggu-nunggu akhirnya baru bisa ketemu abah ugi sore sekitar jam 4-an. Abah ugi ini menurutku orangnya asik, diajak ngobrol apa aja nyambung, wawasannya luas, gak bikin suasana tegang lah pokoknya walaupun baru pertama kali ketemu hehe.
Setelah selesai semua urusan, sekalian aku pamit pulang ke abah dan ke mak alit (istri abah). ohiya mak alit ini cantik banget lhooo.. mungkin karena kulitnya yang bersih, giginya yang rapi dan senyumnya yang renyah gitu kali ya jadi the power of make up ga perlu digunakan udah ngena banget cantiknya hahaha...
bersama abah ugi di singgasananya

percayalah, mak alit ini jauh lebih cantik pas ketemu langsung daripada di foto

Hari Jum'at, setelah siap-siap dan sarapan pagi aku langsung kembali ke resort. Yak, 2 jam lagi perjalanan.. degdegan lagi... pemandangan indah lagi.. abis itu ketemu hiruk pikuk kehidupan di bekasi lagi.. abis itu siap-siap ngumpulin data ke KLHK.. abis itu ketemu sama hiruk-pikuk kehidupan mahasiwa lagi di semarang.. abis itu bimbingan lagi.. abis itu lulus deh! 😝
maap kalo endingnya begini banget, tapi intinya dengan penelitian yang seru ini aku belajar kalo mau sukses itu butuh proses dan proses menjadi sukses itu ada yang enak dan ada juga yang gak enak yang penting awali kesuksesanmu dengan niat yang benar dan baik, jangan lupa minta restu orangtua dan keluarga selebihnya serahkan pada Yang Maha Kuasa 😊

Ciptagelar Challenge Part 1

yey, kembali lagi ke tulisan tentang jalan-jalan penelitian 😀😀😀
Berhubung udah hampir selesai menyandang status sebagai mahasiswa, sekarang lagi ribet-ribetnya ngerjain penulisan hukum, tapi walaupun begitu semangat untuk terus eksplor keindahan alam dan budaya Indonesia tetep ada kok, makanya sengaja ambil penelitian tentang hutan adat. Karena selain emang punya passion di bidang hukum adat, kalo penelitian tentang hutan adat itu artinya "lo harus turun ke lapangan buat ngumpulin data" dan menurutku itu adalah salah satu kesempatan emas buat jalan-jalan sambil melakukan sesuatu yang bermanfaat 😄
Jadi, perjalanan ini diawali dengan mencari ide untuk membuat penulisan hukum. Awalnya memang cuma pengen penelitian tentang hukum adat, cari-cari di internet buat nentuin tema, akhirnya dapat lah itu tema tentang hutan adat yang statusnya tumpang tindih dengan hutan konervasi taman nasional dan di sangkut pautkan dengan Putusan MK No.35/PUU-X/2012 yang menyatakan bahwa "hutan adat adalah hutan yang berada di dalam kawasan masyarakat hukum adat".
Setelah nemu ide itu, terus ngurus-ngurus segala macam administrasi penulisan hukum di kampus, dan alhamdulillah dapet tanggapan positif dari Kabag hukum perdata yang akhirnya jadi dosbing 1 ku 😀. Pertama kali yang harus kulakukan setelah pendaftaran penulisan hukum terdaftar dan dapet dosbing adalah nyusun proposal penelitian. Nah, sayangnya aku rada lelet ngerjain proposalnya sementara temen-temen seangkatan udah pada ngurus surat ijin penelitian atau bahkan udah mulai penelitian, bahkan aku masih sibuk revisi proposal 😂. Setelah proposal di acc, lanjut ngurus surat ijin penelitian. Nah berhubung aku penelitiannya di kawasan Taman Nasional dan Taman Nasional itu sendiri berada di bawah dirjen KSDA Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jadi surat ijin penelitian yang aku buat ada 2 : untuk ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan untuk ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Ohiya fyi, metode pengumpulan data yang kugunakan adalah wawancara. Jadi bener2 terjun ke lokasi buat ketemu langsung sama ketua adatnya.
Untuk mengurus ijin penelitian ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak sebenarnya gak sulit kok, karena memang salah satu fungsi Taman Nasional adalah untuk tempat penelitian, yang harus disiapkan cukup proposal penelitian dan surat izin penelitian dari kampus terus dikirim ke Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Kabandungan, Kab. Sukabumi. Setelah mengirim berkas tersebut, nanti pihak BTNGHS akan menghubungimu untuk ketemu di Kantor BTNGHS Kabandungan membuat SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi), setiap orang yang hendak melakukan penelitian di TNGHS WAJIB punya SIMAKSI. SIMAKSI ini berlaku 3 bulan dan bisa dimintakan perpanjangan waktu jika memang dibutuhkan. Karena penelitianku di Kasepuhan Ciptagelar, oleh pihak BTNGHS diarahkan untuk menghubungi Kepala Resort Gunung Bodas.
Untuk bisa sampai ke BTNGHS di Kabandungan, sebenarnya cukup mudah. Bisa ditempuh dengan 2 cara : naik kereta dari Bogor-Parungkuda lalu jalan sedikit ke arah pasar parungkuda atau naik bus dari Bogor-Parungkuda lalu turun di Pasar Parungkuda, disana ada tempat ngetem mobil-mobil L-300 tanyakan saja yang ke arah kabandungan. Ongkosnya dari Bogor-Parungkuda naik kereta Pangrango 15.000 untuk kelas ekonomi dan 40.000 untuk kelas eksekutif. Lalu dari Parungkuda-Kabandungan 20.000 saja dan turun tepat di depan Kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Perjalanan dari Bogor sampai Kabandungan kurang lebih memakan waktu 3-4 jam dan angkutan terakhir dari Kabandungan ke Parungkuda hanya ada sampai jam 3 sore.
Waktu pertama kali mencoba ke Kabandungan sempet gagal, karena sampai Parungkuda udah jam 1an sebenernya bisa aja lanjut ke Kabandungan, tapi gak bisa pulang 😂 akhirnya waktu itu cuma sampe parungkuda terus balik lagi ke bekasi dan untuk menyiasati "pulang kesorean dan gak ada angkutan" maka aku nebeng nginep di rumah temen sehari sebelum ke Kabandungan dan alhamdulillah cara tersebut berhasil membawaku sampai ke Kabandungan untuk mengurus SIMAKSI😄



Peta Lokasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Buku Panduan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Minggu, 03 Januari 2016

Unplanned trip (1)

Di awal tahun 2016 ini, perjalanan saya mulai dari daerah jawa tengah. Ya, karena saya sekarang merantau untuk menuntut ilmu di sebuah universitas di jawa tengah, maka perjalanan diawali dari sekitar tanah perantauan saya 😀

Awalnya saya hanya iseng mencoba untuk lewat jalan lain ketika dalam perjalanan menuju semarang dari magelang. Biasanya saya selalu lewat ring-road ambarawa-bawen tapi hari itu saya dan sahabat saya iseng ingin lewat jalan biasa. Alhasil, beloklah kami ke arah "museum kereta api ambarawa" sesuai dengan papan petunjuk yang kami lihat.

Pagi itu suasana di tempat parkir museum masih sangat sepi, kami adalah pengunjung dengan sepeda motor pertama yang parkir disana. Mengapa kami pilih museum sebagai tempat wisata? Karena selain (biasanya) murah, museum juga banyak memberikan pengetahuan dan spot foto yang menarik 😀
*maklum mahasiswa

Harga tiket masuk museum kereta api ambarawa untuk dewasa adalah Rp 10.000 cukup murah bukan? Sedangkan tiket untuk menaiki kereta uap pp ambarawa-tuntang Rp 50.000 dan rute ini hanya dibuka setiap hari minggu dan/atau libur nasional.

Di dalam museum tersebut kita dapat melihat berbagai macam kereta uap, alat-alat komunikasi antar stasiun pada masa lalu, dan lain sebagainya. Nah, pada zaman kekuasaan raja willem 1 museum ini adalah sebuah stasiun kereta api yang digunakan untuk mengangkut tentara dari dan menuju semarang. Sehingga di dalam stasiun tersebut masih berdiri kokoh bangunan stasiun willem 1 beserta genta dan alat-alat pendukung operasional stasiun lainnya 😀

Yuk teman, sebagai anak Indonesia kita harus lebih mengenal sejarah dan kebudayaan bangsa kita sendiri. Mulai dari diri sendiri, dan dari hal kecil. Kalau bukan kita, siapa lagi?