Yeay!!
The day is coming! Setelah selesai mengurus perijinan ke Taman Nasional,
beberapa hari kemudian aku berangkat ke lokasi. Sebelum berangkat aku sudah
menghubungi Pak Kohar, seorang kepala resort PTN Gunung Bodas, yang membantuku
untuk bisa sampai ke Resort Gunung Bodas di Ciodeng. Untuk bisa sampai kesana,
dari Bogor naik Bus MGI jurusan Bogor-Pl.Ratu (4 jam perjalanan + 2 jam Bekasi-Bogor) turun di per-3an polres kab.
Sukabumi (Bengkel Mayangsari) dari Bengkel tersebut aku dijemput oleh Pak Kohar
lalu mampir ke Kantor Seksi Taman Nasional Gunung Halimun Salak Wilayah III
Palabuhanratu untuk lapor ke Kasi (sambil menunjukkan SIMAKSI yang sudah dibuat di Balai tentunya).
Nah setelah dari Kasi, masih harus menempuh perjalanan ke Resort Gunung Bodas kira-kira 2 jam-an. Perjalanan hari itu selesai sampai di resort dan akan dilanjutkan keesokan harinya karena, menurut Pak Kohar, perjalanan dari resort ke kasepuhan trek nya cukup panjang dan bahaya (jalan naik turun, tanjakan curam. berbatu dan licin)
Keesokan pagi nya setelah selesai siap-siap, aku berangkat menuju kasepuhan ciptagelar naik motor diantar oleh staff resort gunung bodas. Perjalanan ke kasepuhan ciptagelar memakan waktu 1.5-2 jam. Menurut perhitunganku, aku melalui 9 gunung dan 8 lembah, dan 3 (atau 4?) jalan yang terkena longsoran untuk sampai di kasepuhan ciptagelar dari resort gunung bodas. Perjalanan itu bagiku perjalanan yang sangat menegangkan, selain jalannya yang naik turun dan berbelok khas jalanan di pegunungan, jalanan yang masih berbatu dan licin karena semalam diguyur hujan menambah rasa degdegan sepanjang perjalanan itu. Walaupun jalanan menuju ke Kasepuhan Ciptagelar segitu degdegannya tapi pemandangannya benar-benar membuat mata ini gak sanggup kedip. WOW! Barisan pegunungan halimun salak serta kabut yang tipis-tipis menyelimutinya emang jadi obat peredam lelah dan degdegan yang paling ampuh!
![]() | |
| ah itu kalo kena angin muter-muter, disebutnya kolecer |
![]() | |
| jalan berbatu (yang ini rada mending) |
![]() | |
| jembatan yang penuh lumpur akibat longsor |
![]() | |
| jembatan ambrol karena longsor |
![]() |
| ini baru 3 menit dari resort |
Sesampainya di Kasepuhan Ciptagelar, aku langsung menuju rumah (sebut saja) host-fam ku, Kang David. Rumah adat khas Kasepuhan Ciptagelar yang berbentuk rumah panggung berdindingkan anyaman bambu dan berlantaikan kayu serta beratapkan daun (daun apa ya???) membuat suasana Kasepuhan menjadi semakin, ah...ya...gue di Kasepuhan Ciptagelar!
| Leuit Si Jimat, tempat menyimpan padi |
| Aula |
| lapangan volly |
| studio TV dan radio CIGA |
| atap yang baru dirangkai |
| sekolah SD, SMP dan PAUD |
Ohya, di Kasepuhan Ciptagelar ini sudah ada aliran listrik loh, aliran listriknya didapat dari tenaga mikrohidro yang dibangun sekitar tahun 2011 (atau 2012? atau kapan? pokoknya belum setua usia kasepuhannya deh 😄). Setiap Rumah di Kasepuhan Ciptagelar pasti punya kompor tungku untuk masak beras. Karena memang aturan adat mengatur bahwa untuk memasak beras diwajibkan menggunakan kayu bakar (kompor tungku), dan kayu bakar yang biasa digunakan adalah kayu rasamala.
Setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat, malam hari nya setelah sholat maghrib aku dan host-fam ku serta mas mas TNGHS menuju ke Imah Gede (Rumah Besar). Imah gede itu adalah tempat tinggal Ketua Adat beserta keluarganya dan bisa juga sebagai tempat tinggal tamu. Setiap malam, di Kasepuhan Ciptagelar selalu ada kegiatan, baik itu latihan degung ibu-ibu, latihan degung anak-anak, latihan pencaksilat, dsb. Imah gede juga selalu ramai orang. Biasanya warga sering kumpul malam hari untuk sekedar ngobrol-ngobrol atau istilah kerennya kongkow. Nah, kebetulan pas lagi ikut kongkow di Imah Gede, para baris kolot (sesepuh yang menjabat jadi menterinya kasepuhan) juga ada disana. Jadi sekalian aja wawancara ke Ki Karma selaku Kemit Leuweung (PAM Swakarsa/ penjaga hutan adat). Nah, serunya nih.. Ki Karma sendiri kurang lancar berbahasa Indonesia sedangkan aku sendiri kurang paham bahasa sunda.. jadilah obrolan kami rada-rada roaming gitu 😂 untung ada kang david yang bantu mentranslate percakapan kami.
| sesi translate 😝 |
| bersama Ki Karma |
Sebenarnya dari sebelum berangkat ke kasepuhan ciptagelar, niat awal emang pengen ketemu sama abah ugi selaku ketua adat dan kemit leuweung untuk mengumpulkan data. Tapi ternyata pas lagi kongkow itu dikabari kalau abah ugi tadi siang baru aja berangkat ke Sukabumi karena ada keperluan dan belum tau akan selesai dan balik ke kasepuhan kapan. Rada sedih dan hopeless sih sama perjalanan ini.. apa iya harus pulang dulu terus balik lagi kesini minggu depan, duh repot banget 😥
Ohiya, cerita sedikit nih tentang hutan adat masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Jadi, hutan adat di Kasepuhan Ciptagelar itu dibagi menjadi 3 : hutan titipan, hutan tutupan, dan hutan garapan. Nah, yang dimaksud hutan garapan itu adalah yang selama ini kita ketahui sebagai sawah, ladang, huma ya pokoknya yang digarap (dikerjakan) oleh warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan hutan titipan adalah hutan yang tidak boleh diganggu, tidak boleh dimasuki sama sekali oleh warga, dan hutan tutupan adalah sebagai pembatas antara hutan titipan dan hutan garapan dimana hutan tutupan ini hanya boleh sekali-sekali dimasuki dan dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu seperti mengambil kayu atau bambu untuk membangun rumah, tanaman-tanaman untuk obat-obatan, dsb atas ijin abah. Sebenarnya konsep dari pembagian hutan adat masyarakat hukum adat ini sejalan dengan konsep zonasi dari taman nasional dengan adanya zona inti (leuweung titipan) yang benar-benar dijaga keasrian dan kealamiannya.
Setelah menggali informasi dari Ki Karma, keesokan harinya aku masih di Kasepuhan Ciptagelar mengamati kehidupan masyarakat disana. Ada yang berangkat sekolah, ada yang pergi ke sawah, ada yang nge-lisung (numbuk padi), ada yang mencari kayu bakar, dsb sambil berharap hari ini bisa ketemu abah. Tapi ternyata Allah berkata lain, hari itu aku masih belum bisa ketemu abah karena abahnya belum pulang dari sukabumi😢
Keesokan paginya, aku keliling kampung buat hunting foto. Soalnya udah 3 hari di kasepuhan tapi fotonya baru sedikit dan belum ada foto di suasana pagi yang cerah di Ciptagelar hehehe. Nah, sepulangnya dari foto-foto itu, pas lagi sarapan kang hendri (mas mas TNGHS) bilang kalo abahnya udah pulang dan nanti siang jam 2 an bisa ketemu. Yeay!! Doaku terkabul 😁
Dari jam 12 siang aku udah nongkrong sambil kongkow di Imah Gede. Disana kebetulan ada rombongan, 3 orang dari Banten yang juga ada perlu untuk ketemu abah. Di jam makan siang, imah gede selalu ada banyak makanan yang disediakan baik untuk para tamu, warga yang istirahat sepulang dari sawah maupun untuk para (sebut saja) staff nya Imah Gede.
Setelah menunggu-nunggu akhirnya baru bisa ketemu abah ugi sore sekitar jam 4-an. Abah ugi ini menurutku orangnya asik, diajak ngobrol apa aja nyambung, wawasannya luas, gak bikin suasana tegang lah pokoknya walaupun baru pertama kali ketemu hehe.
Setelah selesai semua urusan, sekalian aku pamit pulang ke abah dan ke mak alit (istri abah). ohiya mak alit ini cantik banget lhooo.. mungkin karena kulitnya yang bersih, giginya yang rapi dan senyumnya yang renyah gitu kali ya jadi the power of make up ga perlu digunakan udah ngena banget cantiknya hahaha...
| bersama abah ugi di singgasananya |
![]() |
| percayalah, mak alit ini jauh lebih cantik pas ketemu langsung daripada di foto |
Hari Jum'at, setelah siap-siap dan sarapan pagi aku langsung kembali ke resort. Yak, 2 jam lagi perjalanan.. degdegan lagi... pemandangan indah lagi.. abis itu ketemu hiruk pikuk kehidupan di bekasi lagi.. abis itu siap-siap ngumpulin data ke KLHK.. abis itu ketemu sama hiruk-pikuk kehidupan mahasiwa lagi di semarang.. abis itu bimbingan lagi.. abis itu lulus deh! 😝
maap kalo endingnya begini banget, tapi intinya dengan penelitian yang seru ini aku belajar kalo mau sukses itu butuh proses dan proses menjadi sukses itu ada yang enak dan ada juga yang gak enak yang penting awali kesuksesanmu dengan niat yang benar dan baik, jangan lupa minta restu orangtua dan keluarga selebihnya serahkan pada Yang Maha Kuasa 😊















