Sabtu, 25 Februari 2017

Ciptagelar Challenge Part 2






Yeay!! The day is coming! Setelah selesai mengurus perijinan ke Taman Nasional, beberapa hari kemudian aku berangkat ke lokasi. Sebelum berangkat aku sudah menghubungi Pak Kohar, seorang kepala resort PTN Gunung Bodas, yang membantuku untuk bisa sampai ke Resort Gunung Bodas di Ciodeng. Untuk bisa sampai kesana, dari Bogor naik Bus MGI jurusan Bogor-Pl.Ratu (4 jam perjalanan + 2 jam Bekasi-Bogor) turun di per-3an polres kab. Sukabumi (Bengkel Mayangsari) dari Bengkel tersebut aku dijemput oleh Pak Kohar lalu mampir ke Kantor Seksi Taman Nasional Gunung Halimun Salak Wilayah III Palabuhanratu untuk lapor ke Kasi (sambil menunjukkan SIMAKSI yang sudah dibuat di Balai tentunya).
Nah setelah dari Kasi, masih harus menempuh perjalanan ke Resort Gunung Bodas kira-kira 2 jam-an. Perjalanan hari itu selesai sampai di resort dan akan dilanjutkan keesokan harinya karena, menurut Pak Kohar, perjalanan dari resort ke kasepuhan trek nya cukup panjang dan bahaya (jalan naik turun, tanjakan curam. berbatu dan licin)
Keesokan pagi nya setelah selesai siap-siap, aku berangkat menuju kasepuhan ciptagelar naik motor diantar oleh staff resort gunung bodas. Perjalanan ke kasepuhan ciptagelar memakan waktu 1.5-2 jam. Menurut perhitunganku, aku melalui 9 gunung dan 8 lembah, dan 3 (atau 4?) jalan yang terkena longsoran untuk sampai di kasepuhan ciptagelar dari resort gunung bodas. Perjalanan itu bagiku perjalanan yang sangat menegangkan, selain jalannya yang naik turun dan berbelok khas jalanan di pegunungan, jalanan yang masih berbatu dan licin karena semalam diguyur hujan menambah rasa degdegan sepanjang perjalanan itu. Walaupun jalanan menuju ke Kasepuhan Ciptagelar segitu degdegannya tapi pemandangannya benar-benar membuat mata ini gak sanggup kedip. WOW! Barisan pegunungan halimun salak serta kabut yang tipis-tipis menyelimutinya emang jadi obat peredam lelah dan degdegan yang paling ampuh!
ah itu kalo kena angin muter-muter, disebutnya kolecer




jalan berbatu (yang ini rada mending)

jembatan yang penuh lumpur akibat longsor

jembatan ambrol karena longsor

ini baru 3 menit dari resort

Sesampainya di Kasepuhan Ciptagelar, aku langsung menuju rumah (sebut saja) host-fam ku, Kang David. Rumah adat khas Kasepuhan Ciptagelar yang berbentuk rumah panggung berdindingkan anyaman bambu dan berlantaikan kayu serta beratapkan daun (daun apa ya???) membuat suasana Kasepuhan menjadi semakin, ah...ya...gue di Kasepuhan Ciptagelar!
Leuit Si Jimat, tempat menyimpan padi

Aula 

lapangan volly

studio TV dan radio CIGA

atap yang baru dirangkai

sekolah SD, SMP dan PAUD 






Ohya, di Kasepuhan Ciptagelar ini sudah ada aliran listrik loh, aliran listriknya didapat dari tenaga mikrohidro yang dibangun sekitar tahun 2011 (atau 2012? atau kapan? pokoknya belum setua usia kasepuhannya deh 😄). Setiap Rumah di Kasepuhan Ciptagelar pasti punya kompor tungku untuk masak beras. Karena memang aturan adat mengatur bahwa untuk memasak beras diwajibkan menggunakan kayu bakar (kompor tungku), dan kayu bakar yang biasa digunakan adalah kayu rasamala.




Setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat, malam hari nya setelah sholat maghrib aku dan host-fam ku serta mas mas TNGHS menuju ke Imah Gede (Rumah Besar). Imah gede itu adalah tempat tinggal Ketua Adat beserta keluarganya dan bisa juga sebagai tempat tinggal tamu. Setiap malam, di Kasepuhan Ciptagelar selalu ada kegiatan, baik itu latihan degung ibu-ibu, latihan degung anak-anak, latihan pencaksilat, dsb. Imah gede juga selalu ramai orang. Biasanya warga sering kumpul malam hari untuk sekedar ngobrol-ngobrol atau istilah kerennya kongkow. Nah, kebetulan pas lagi ikut kongkow di Imah Gede, para baris kolot (sesepuh yang menjabat jadi menterinya kasepuhan) juga ada disana. Jadi sekalian aja wawancara ke Ki Karma selaku Kemit Leuweung (PAM Swakarsa/ penjaga hutan adat). Nah, serunya nih.. Ki Karma sendiri kurang lancar berbahasa Indonesia sedangkan aku sendiri kurang paham bahasa sunda.. jadilah obrolan kami rada-rada roaming gitu 😂 untung ada kang david yang bantu mentranslate percakapan kami.
sesi translate 😝

bersama Ki Karma




Sebenarnya dari sebelum berangkat ke kasepuhan ciptagelar, niat awal emang pengen ketemu sama abah ugi selaku ketua adat dan kemit leuweung untuk mengumpulkan data. Tapi ternyata pas lagi kongkow itu dikabari kalau abah ugi tadi siang baru aja berangkat ke Sukabumi karena ada keperluan dan belum tau akan selesai dan balik ke kasepuhan kapan. Rada sedih dan hopeless sih sama perjalanan ini.. apa iya harus pulang dulu terus balik lagi kesini minggu depan, duh repot banget 😥
Ohiya, cerita sedikit nih tentang hutan adat masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Jadi, hutan adat di Kasepuhan Ciptagelar itu dibagi menjadi 3 : hutan titipan, hutan tutupan, dan hutan garapan. Nah, yang dimaksud hutan garapan itu adalah yang selama ini kita ketahui sebagai sawah, ladang, huma ya pokoknya yang digarap (dikerjakan) oleh warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan hutan titipan adalah hutan yang tidak boleh diganggu, tidak boleh dimasuki sama sekali oleh warga, dan hutan tutupan adalah sebagai pembatas antara hutan titipan dan hutan garapan dimana hutan tutupan ini hanya boleh sekali-sekali dimasuki dan dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu seperti mengambil kayu atau bambu untuk membangun rumah, tanaman-tanaman untuk obat-obatan, dsb atas ijin abah. Sebenarnya konsep dari pembagian hutan adat masyarakat hukum adat ini sejalan dengan konsep zonasi dari taman nasional dengan adanya zona inti (leuweung titipan) yang benar-benar dijaga keasrian dan kealamiannya.
Setelah menggali informasi dari Ki Karma, keesokan harinya aku masih di Kasepuhan Ciptagelar mengamati kehidupan masyarakat disana. Ada yang berangkat sekolah, ada yang pergi ke sawah, ada yang nge-lisung (numbuk padi), ada yang mencari kayu bakar, dsb sambil berharap hari ini bisa ketemu abah. Tapi ternyata Allah berkata lain, hari itu aku masih belum bisa ketemu abah karena abahnya belum pulang dari sukabumi😢
Keesokan paginya, aku keliling kampung buat hunting foto. Soalnya udah 3 hari di kasepuhan tapi fotonya baru sedikit dan belum ada foto di suasana pagi yang cerah di Ciptagelar hehehe. Nah, sepulangnya dari foto-foto itu, pas lagi sarapan kang hendri (mas mas TNGHS) bilang kalo abahnya udah pulang dan nanti siang jam 2 an bisa ketemu. Yeay!! Doaku terkabul 😁
Dari jam 12 siang aku udah nongkrong sambil kongkow di Imah Gede. Disana kebetulan ada rombongan, 3 orang dari Banten yang juga ada perlu untuk ketemu abah. Di jam makan siang, imah gede selalu ada banyak makanan yang disediakan baik untuk para tamu, warga yang istirahat sepulang dari sawah maupun untuk para (sebut saja) staff nya Imah Gede.
Setelah menunggu-nunggu akhirnya baru bisa ketemu abah ugi sore sekitar jam 4-an. Abah ugi ini menurutku orangnya asik, diajak ngobrol apa aja nyambung, wawasannya luas, gak bikin suasana tegang lah pokoknya walaupun baru pertama kali ketemu hehe.
Setelah selesai semua urusan, sekalian aku pamit pulang ke abah dan ke mak alit (istri abah). ohiya mak alit ini cantik banget lhooo.. mungkin karena kulitnya yang bersih, giginya yang rapi dan senyumnya yang renyah gitu kali ya jadi the power of make up ga perlu digunakan udah ngena banget cantiknya hahaha...
bersama abah ugi di singgasananya

percayalah, mak alit ini jauh lebih cantik pas ketemu langsung daripada di foto

Hari Jum'at, setelah siap-siap dan sarapan pagi aku langsung kembali ke resort. Yak, 2 jam lagi perjalanan.. degdegan lagi... pemandangan indah lagi.. abis itu ketemu hiruk pikuk kehidupan di bekasi lagi.. abis itu siap-siap ngumpulin data ke KLHK.. abis itu ketemu sama hiruk-pikuk kehidupan mahasiwa lagi di semarang.. abis itu bimbingan lagi.. abis itu lulus deh! 😝
maap kalo endingnya begini banget, tapi intinya dengan penelitian yang seru ini aku belajar kalo mau sukses itu butuh proses dan proses menjadi sukses itu ada yang enak dan ada juga yang gak enak yang penting awali kesuksesanmu dengan niat yang benar dan baik, jangan lupa minta restu orangtua dan keluarga selebihnya serahkan pada Yang Maha Kuasa 😊

Ciptagelar Challenge Part 1

yey, kembali lagi ke tulisan tentang jalan-jalan penelitian 😀😀😀
Berhubung udah hampir selesai menyandang status sebagai mahasiswa, sekarang lagi ribet-ribetnya ngerjain penulisan hukum, tapi walaupun begitu semangat untuk terus eksplor keindahan alam dan budaya Indonesia tetep ada kok, makanya sengaja ambil penelitian tentang hutan adat. Karena selain emang punya passion di bidang hukum adat, kalo penelitian tentang hutan adat itu artinya "lo harus turun ke lapangan buat ngumpulin data" dan menurutku itu adalah salah satu kesempatan emas buat jalan-jalan sambil melakukan sesuatu yang bermanfaat 😄
Jadi, perjalanan ini diawali dengan mencari ide untuk membuat penulisan hukum. Awalnya memang cuma pengen penelitian tentang hukum adat, cari-cari di internet buat nentuin tema, akhirnya dapat lah itu tema tentang hutan adat yang statusnya tumpang tindih dengan hutan konervasi taman nasional dan di sangkut pautkan dengan Putusan MK No.35/PUU-X/2012 yang menyatakan bahwa "hutan adat adalah hutan yang berada di dalam kawasan masyarakat hukum adat".
Setelah nemu ide itu, terus ngurus-ngurus segala macam administrasi penulisan hukum di kampus, dan alhamdulillah dapet tanggapan positif dari Kabag hukum perdata yang akhirnya jadi dosbing 1 ku 😀. Pertama kali yang harus kulakukan setelah pendaftaran penulisan hukum terdaftar dan dapet dosbing adalah nyusun proposal penelitian. Nah, sayangnya aku rada lelet ngerjain proposalnya sementara temen-temen seangkatan udah pada ngurus surat ijin penelitian atau bahkan udah mulai penelitian, bahkan aku masih sibuk revisi proposal 😂. Setelah proposal di acc, lanjut ngurus surat ijin penelitian. Nah berhubung aku penelitiannya di kawasan Taman Nasional dan Taman Nasional itu sendiri berada di bawah dirjen KSDA Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jadi surat ijin penelitian yang aku buat ada 2 : untuk ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan untuk ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Ohiya fyi, metode pengumpulan data yang kugunakan adalah wawancara. Jadi bener2 terjun ke lokasi buat ketemu langsung sama ketua adatnya.
Untuk mengurus ijin penelitian ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak sebenarnya gak sulit kok, karena memang salah satu fungsi Taman Nasional adalah untuk tempat penelitian, yang harus disiapkan cukup proposal penelitian dan surat izin penelitian dari kampus terus dikirim ke Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Kabandungan, Kab. Sukabumi. Setelah mengirim berkas tersebut, nanti pihak BTNGHS akan menghubungimu untuk ketemu di Kantor BTNGHS Kabandungan membuat SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi), setiap orang yang hendak melakukan penelitian di TNGHS WAJIB punya SIMAKSI. SIMAKSI ini berlaku 3 bulan dan bisa dimintakan perpanjangan waktu jika memang dibutuhkan. Karena penelitianku di Kasepuhan Ciptagelar, oleh pihak BTNGHS diarahkan untuk menghubungi Kepala Resort Gunung Bodas.
Untuk bisa sampai ke BTNGHS di Kabandungan, sebenarnya cukup mudah. Bisa ditempuh dengan 2 cara : naik kereta dari Bogor-Parungkuda lalu jalan sedikit ke arah pasar parungkuda atau naik bus dari Bogor-Parungkuda lalu turun di Pasar Parungkuda, disana ada tempat ngetem mobil-mobil L-300 tanyakan saja yang ke arah kabandungan. Ongkosnya dari Bogor-Parungkuda naik kereta Pangrango 15.000 untuk kelas ekonomi dan 40.000 untuk kelas eksekutif. Lalu dari Parungkuda-Kabandungan 20.000 saja dan turun tepat di depan Kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Perjalanan dari Bogor sampai Kabandungan kurang lebih memakan waktu 3-4 jam dan angkutan terakhir dari Kabandungan ke Parungkuda hanya ada sampai jam 3 sore.
Waktu pertama kali mencoba ke Kabandungan sempet gagal, karena sampai Parungkuda udah jam 1an sebenernya bisa aja lanjut ke Kabandungan, tapi gak bisa pulang 😂 akhirnya waktu itu cuma sampe parungkuda terus balik lagi ke bekasi dan untuk menyiasati "pulang kesorean dan gak ada angkutan" maka aku nebeng nginep di rumah temen sehari sebelum ke Kabandungan dan alhamdulillah cara tersebut berhasil membawaku sampai ke Kabandungan untuk mengurus SIMAKSI😄



Peta Lokasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Buku Panduan Taman Nasional Gunung Halimun Salak