Jumat, 15 Desember 2017

Suka Duka Relawan Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 (Eps.2)

Setelah cerita pra pemberangkatan di episode 1, kali ini aku akan menceritakan tentang pemberangkatan dan pelaksanaan.
Anggap saja ini adalah bukti autentik kalau aku pernah mengikuti kegiatan ini, yang kelak bisa dibaca oleh anak dan cucuku dan mereka turut berbangga bahwa ibu atau neneknya dulu pernah jadi bendahara tim ENJ jabar, hahahaha.
Hari yang dinanti telah tiba. Tanggal 12 September 2017 adalah hari besar bagi kami, hari dimana pertama kali kami semua bertatap muka secara langsung. Sayangnya hanya ada 20 orang yang turut serta dalam tim kami. 5 orang lainnya mengundurkan diri, jadwalnya tidak pas dengan urutan skala prioritas kepentingannya. Semua orang senang di hari itu, tidak ada raut kesedihan yang mampir di wajah teman-teman baruku. Saling menyapa, berjabat tangan, berkenalan, obrolan ringan seputar perjalanan darat yang mereka tempuh dari daerah masing-masing, ber-selfie ria, berdiri di dek kapal sambil memandang biru-hijau-dan bersampahnya-laut jawa, kira-kira itulah pemandangan yang bisa dilihat selama perjalanan kami dari pelabuhan sunda kelapa menuju pulau harapan.
5 jam berlalu sejak jam setengah sembilan pagi itu, akhirnya kami tiba di dermaga pulau kelapa, tepat di depan kantor Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Rasanya oleng begitu menapaki daratan lagi, hahaha. Panas terik, lapar dan haus diselingi gelak tawa dan senyum manis memandang lautan biru dengan gradasi yang sangat indah menjadi potret tak terlupakan yang masih terekam dalam memoriku sampai saat ini.
Setelah koordinator kami sowan ke polsek dan kantor kelurahan setempat, dan barang-barang kami diangkut menggunakan tossa (re: mobil) pengangkut sampah pinajaman dari kelurahan  😂, barulah kami semua menuju taman untuk makan siang (yang sudah tak lagi siang). Enak, itulah komentar kami terhadap makan siang pertama kami di Pulau Harapan. Catering Ibu Irien namanya, warungnya terletak di ujung dermaga Pulau Harapan, Irien nama anaknya ibunya sendiri namanya Sariyah. Masakan ibu ini recommended banget untuk kamu yang hendak berkunjung ke Pulau Harapan. Setelah makan siang yang tak lagi siang, kami membawa barang-barang kami dengan gerobak untuk dibawa ke homestay. Butuh 2 gerobak untuk mengangkut semua barang dalam satu waktu.
Lelah, panas, lengket dan berkeringat. Kira-kira kata tersebutlah yang dapat menggambarkan hari kami waktu itu. Masih beradaptasi dengan lingkungan pulau yang terik dan bau laut dimana-mana. *yaiyalah, hahaha
Air mandi kami selama di homestay adalah air yang tidak begitu asin. tapi tidak juga tawar. Kalau dipakai untuk sikat gigi, rasanya mirip mirip pocari sweat lah ya hahaha. Jadi untuk yang hendak pergi ke Pulau dan punya masalah kulit, jangan lupa disiapkan obatnya 😁
Day one clear ✅
Di hari kedua dan ketiga, kami mengunjungi kantor kelurahan, dan berkunjung ke sekolah yang ada di Pulau Harapan untuk menyesuaikan program kami dengan jadwal yang ada.
Adik-adik sekolah di Pulau Harapan terlihat begitu antusias dengan kehadiran kami.Berbagai perlombaan dan kelas motivasi pun digelar. Semua wajah terlihat gembira.
Rencana awal kami, semua program harus di selesaikan sebelum hari Kamis, dan hari Jum'at hanya akan digunakan untuk persiapan Pentas Anak Pulau, yaitu sebuah acara puncak program kerja kami sekaligus malam perpisahan kami dengan seluruh penduduk Pulau Harapan.
Hari demi hari kami lalui dengan suka cita, sulitnya mandi dengan air tawar bukan lagi menjadi keluhan. Perihnya wudhu dengan air asin juga rasanya sudah kebal. Setiap pagi dan petang, kami selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan berkeliling pulau. Mencari sunrise di timur, dan menangkap sunset di barat.
Bagiku, dari 11 hari yang kami lalui bersama, Pentas Anak Pulau adalah program yang paling berkesan. Mulai dari persiapan, hingga pasca pentas.
Karena di jadwalkan di hari terakhir sebelum kepulangan kami, dan rencana awal yang mulanya akan diselenggarakan di dermaga namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk pindah lokasi ke halaman kantor kelurahan, persiapan yang kami lakukan pun cukup terkesan tergesa-gesa.
Karena kantor kelurahan masih digunakan sampai sore hari, dekorasi baru bisa dimulai di sore hari sekitar pukul 4 sedangkan acara kami akan dimulai pukul setengah 8 malam. Mencari pinjaman lampu tembak untuk memperbaiki pencahayaan panggung, itulah hal yang paling seru yang kulakukan selama persiapan Pentas Anak Pulau, hahaha. Ditengah sibuknya orang-orang mendekor halaman kelurahan menjadi panggung hiburan, bermodalkan kalimat sakti "selama masih di Indonesia, semua bisa dilobi", akhirnya aku dan seorang temanku berkeliling mencari tau dimana kami bisa meminjam lampu tembak.
"Kuli proyek." Itulah kata kuncinya, karena setiap mereka berlembur pasti menggunakan lampu tembak untuk penerangannya.
Semoga malam ini mereka tidak berlembur, doaku dalam hati. Namun nyatanya justru malam itu mereka sudah dijadwalkan untuk melembur sampai jam 10 malam. Kebetulan ada beberapa proyek pembangunan yang sedang dikerjakan di Pulau Harapan. Setelah dari proyek pertama, kami coba mencari tau dari warga lokal. Ibu Irien, orang yang banyak sekali membantu kami selama hidup di Pulau. Setelah mendapat saran untuk coba mencari ke proyekan lain atau bertanya pada Ibu Dewan, kami berdua meminjam motor salah seorang warga untuk berkeliling mencari proyek pembangunan yang tidak melembur malam ini.
"Ibu Dewan" kata kunci selanjutnya. Namun masih juga nihil, menurutnya tidak ada satupun penduduk di Pulau Harapan yang punya jasa sewa lampu tembak. "Paling yang punya cuma kuli proyek", begitu katanya. Ibu Dewan pun menyarankan kami untuk meminjam lampu tembak ke kuli proyek, melalui Wak Budi, salah seorang staff kecamatan yang kenal dengan boss proyek yang ada di Pulau Harapan. "Biar gampang", katanya. Kemudian kami pun ditunjukkan jalan oleh anak Ibu Dewan menuju rumah Wak Budi. Sebelum berangkat ke rumah Wak Budi, aku masih penasaran dan hendak mencoba langsung pinjam ke kuli proyek yang sedang membangun sekolah di samping rumah Ibu Dewan. "Malam ini kosong dek, gak ada lembur. Kalau mau pakai, izinnya sama Pak Galih, mess nya ada di depan SMP, di Timur",
akhirnya kami mengunjungi Pak Galih sesuai arahan pak kuproy dan dapat!! yesss

akhirnya pentas seni yang kami rencanakan berlangsung meriah dan menyenangkan, berjalan sesuai rencana semua senang semua suka walaupun masih menyisakan kritik di sana sini 😁

Tidak ada komentar:

Posting Komentar